Sayonara, Hanami

April
adalah bulan istimewa bagi orang Jepang. Puncak musim semi, di mana luruhnya
bunga ume terganti oleh keindahan bunga sakura, mekarnya tsubaki, dan tulip2
import dari Horanda. Awal semester baru, sekolah baru, pekerjaan baru, apato
baru, biasanya dimulai pada bulan shigatsu ini.

Berakhirnya
musim dingin yg menggigit, yg membuat malas mandi, apalagi tanpa adanya spirit
natal, kado tahun baru dan doki-doki valentinan utk melewatinya *piss men*, merupakan
saat yg sungguh saya nanti2kan. Udah gak sabar rasanya melepas jaket tebal dan
daleman heat tech yg saya kenakan. Udah gak kuku rasanya utk menggilir kaos2
simple dan sendal2 saya yang hampir setengah tahun ini hanya menuh-menuhin lemari.
Belum lagi koleksi2 terbaru, hwaaahhh… terbayang sudah keriaan sepanjang
musim semi hingga musim panas nanti. Tapi…

Tahun
ini, saya gak akan sempat melihat permukaan sungai Hijikawa yang tertutup rata
oleh kelopak bunga sakura. Saya gak akan di sini saat angin membuat hujan
sakura lokal di jalan yg biasa saya lewati. Saat pendamba sakura berdatangan
dari segala penjuru bumi, maka saya justru akan pergi.

Ya,
saya akan pulang. Saya harus segera mengobservasi oKan yg terlanjur bicara
bahasa planet. Analisa sementara oKan hanya bingung bahasa. Semoga gak
aneh-aneh semacam autisme atau gifted child segala rupa. Dia bukan anak yg anti
sosial, dan siapapun gak sudi melakukan kontak mata kalo sedang merasa bosan,
betul? Tapi sebaiknya memang perlu diobservasi, dan saya pikir lingkungan
berbahasa Indonesia sangat dibutuhkan oleh oKan saat ini. Lebih cepat lebih
baik. Jadi, kami akan pulang. Saya dan oKan.

Motivasi
lain tentu saja ada. Selain kenyataan bahwa setahun kemarin Jepang ternyata
bukan untuk saya, I desperately need more time and more space for my self to do
my own things. Apapun hal2 tak penting asalkan bisa membuat saya bahagia. A
happy mom would make a happy child, aight?   

So,
semua demi oKan. Dan paNda? Yeah, you japanese gals atawa yg campuran could
dying trying, cause paNda akan saya titipkan sama Boss besar. And me? Yeah, um
going to be his talking frog for years, and he’s going to love me more because
of it, bwakakaka… hhh… naseeb kawin ma geek… (hehe, pis paNda, do me
tonight ‘k? *wink*).

Jya,
sayonara hanami (cherry blossom viewing)… haru (spring)… Icha, mbak Indah,
teman2 suamiku, sensei2 nihongo-ku di MIF, para okasan di taman2 bermain, wanwan-chan,
uta-chan, dan koto-chan (tiga yg terakhir titipan oKan ;p). Mina-san, hontouni
iro-iro osewani narimashita.

Arigatou…

 

“Apakah kau pernah merasakan,
lava yang bergejolak di ulu hatimu, sementara angin musim dingin justru membuat
kornea matamu beku? Lalu saat putik sakura mulai merekah, jiwamu justru
mengkristal bagaikan salju. Dingin, keras, keropos. Bahkan saat kau duduk di
bawah pohon sakura yang tengah rontok, telapak tanganmu malah menangkap sehelai
daun kering coklat yang rapuh, rangup. Sama seperti perasaan Troy saat
memandang sungai yang tertutup helai kelopak sakura mati, perlahan hanyut
menuju laut. Bagai sisik naga, menggelosor tenang tanpa emosi. Membawa pergi
halusinasinya yang berwujud sebuah sampan, tempat sang kekasih terbujur diam,
lengkap dengan bayangan phoenix yang melintas di atas jasadnya.”

 

From my
unpublished novel, “Bell of Dragon’s Love”. Hh, kapan yak kamu
lahir sayang?

 

 

Shonandai, Maret
2008

2 Responses to “Sayonara, Hanami”

  1. Rani Says:

    ditunggu novelnya mbak al. ditunggu dikirim k sini maksudnya, hihi :D
    smoga smua lancar yaaa

  2. Indah Says:

    Aliaaaaaa….aku kok jadi nangis siy baca postingan yg ini??? Mang dasar “tukang dongeng” yg yahud siy…tulisan di blog kok kayak bagian dari novel! Anyway, meski sedih bakal kehilangan teman lagi di sini, tapi aku “senang” krn “the first reason” utk kepulanganmu adalah demi “ur precious one” (tp bukan berarti papanya gak loh…). Klu aku ada di posisimu, aku jg akan mengambil jalan itu. Hope everything will running well ya, Al…ganbatte kudasai!

Leave a Reply